Padang – Universitas Andalas (Unand) terus berupaya menjadi universitas kelas dunia atau World Class University. Namun, upaya ini tidak akan mengesampingkan prinsip inklusivitas.

Hal tersebut ditegaskan Rektor Unand, Dr. Efa Yonnedi, saat acara Coffee Morning bersama pimpinan media di Padang, Senin (2/2/2026).

Efa memastikan, meski berstatus Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH), Unand tetap membuka akses pendidikan seluas-luasnya bagi seluruh lapisan masyarakat.

“PTNBH bukan berarti menutup akses. Justru kami memperluas dukungan agar mahasiswa tetap bisa kuliah dengan layak,” tegas Efa.

Ia menepis anggapan bahwa status PTNBH membuat biaya pendidikan di Unand menjadi tidak terjangkau.

Unand, kata Efa, terus memperluas skema bantuan finansial bagi mahasiswa.

Saat ini, sekitar 20 persen dari total 36.211 mahasiswa aktif Unand dibiayai melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah dan berbagai beasiswa lainnya.

Unand juga tetap mempertahankan skema Uang Kuliah Tunggal (UKT) Level 1 sebesar Rp500.000.

Sebagai upaya menjaga keberlanjutan, Unand mengoptimalkan pengelolaan dana abadi.

Hingga September 2025, dana abadi yang terhimpun mencapai Rp33,17 miliar dengan hasil pengembangan sebesar Rp2,59 miliar.

“Dari hasil pengembangan tersebut, sebesar Rp1 miliar kami alokasikan khusus untuk beasiswa dana abadi tahun 2025,” jelas Efa.

Menjelang usia ke-70 pada 13 September 2026, Unand menunjukkan pertumbuhan performa yang signifikan.

Hal ini tercermin dari capaian peringkat 396 Asia (QS WUR) dan 11 nasional (THE), penguatan 40 program studi berstandar internasional, serta dukungan sumber daya manusia (SDM) tangguh yang mencakup 231 guru besar dan 1.555 dosen.

Efa menekankan pentingnya peran media sebagai mitra strategis dalam menyampaikan informasi mengenai capaian Unand.

Sinergi ini diharapkan dapat mewujudkan Unand sebagai kampus tertua di luar Pulau Jawa yang mampu bersaing di panggung dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *