Jakarta – Presiden Prabowo Subianto membawa kabar baik dari lawatannya ke Eropa. Potensi investasi senilai 4 miliar poundsterling atau setara Rp91,67 triliun berhasil dibawa pulang.

Investasi ini diharapkan dapat menjadi angin segar bagi perekonomian Indonesia.

Namun, seberapa besar dampak investasi ini bagi masyarakat luas?

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P Sasmita, menilai dampak langsung investasi ini belum akan terasa dalam waktu dekat.

Meski begitu, Ronny melihat adanya dampak psikologis positif dan perbaikan persepsi pasar terhadap ekonomi nasional.

“Dalam jangka pendek, dampak ‘oleh-oleh’ diplomasi ini belum akan langsung terasa di kantong masyarakat,” ujarnya.

“Namun, ini cukup penting untuk memperbaiki sentimen dan ekspektasi terhadap ekonomi nasional,” imbuhnya.

Kesepakatan investasi dengan Inggris, menurutnya, mengirimkan sinyal kuat bahwa Indonesia tetap menjadi mitra strategis global, terutama di sektor maritim.

Ronny melihat potensi dampak konkret dalam jangka menengah, terutama dari rencana pembangunan 1.582 kapal ikan di dalam negeri. Proyek ambisius ini diproyeksikan menyerap hingga 600 ribu tenaga kerja.

Namun, Ronny menekankan bahwa keberhasilan proyek ini tidak hanya ditentukan oleh banyaknya nota kesepahaman.

“Kuncinya bukan pada MoU, tapi eksekusi,” tegasnya. “Banyak negara jago tanda tangan, tapi tak banyak yang konsisten mengeksekusi.”

Kerja sama pendidikan dengan 24 universitas Inggris juga dinilai penting sebagai investasi jangka menengah-panjang.

Direktur ekonomi Centre of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, mengingatkan agar publik tidak terlalu euforia dengan angka investasi.

Menurutnya, narasi presiden membawa ‘oleh-oleh’ investasi bukanlah hal baru dalam sejarah pemerintahan Indonesia.

“Cerita presiden bawa oleh-oleh investasi ini sudah ada sejak zaman Jokowi jadi Presiden,” ujar Huda.

Ia mencontohkan kunjungan Presiden ke-7 Jokowi ke Amerika Serikat (AS) yang sempat diklaim membawa komitmen investasi besar dari perusahaan milik Elon Musk. Namun, hingga kini realisasi proyek tersebut belum terlihat jelas.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyebut salah satu capaian strategis adalah kerja sama investasi di bidang maritim dengan Inggris.

Kerja sama ini termasuk pembangunan 1.582 kapal ikan yang akan diproduksi di dalam negeri dan diproyeksikan menyerap hingga 600 ribu tenaga kerja.

Selain itu, Indonesia menjalin kerja sama pendidikan dengan 24 universitas terbaik di Inggris, khususnya di bidang kedokteran serta sains, teknologi, dan matematika (STEM).

Indonesia juga resmi bergabung dalam Board of Peace untuk mendorong perdamaian di Gaza, Palestina.

Dalam rangkaian lawatan itu, Prabowo juga memaparkan konsep ekonomi nasional ‘Prabowonomics’ di World Economic Forum (WEF) Davos, Swiss, serta memperkuat kerja sama strategis dengan Prancis di berbagai sektor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *