Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus berupaya mengoptimalkan lahan dan menjalankan program strategis daerah demi menyelaraskan program swasembada pangan pemerintah pusat.
Salah satu upaya Kemenperin adalah memacu pengembangan usaha dan daya saing industri pati ubi kayu nasional.
Hal ini dilakukan melalui diversifikasi spesifikasi, substitusi impor, serta penguatan rantai pasok.
Kemenperin menggandeng Perhimpunan Pengusaha Tepung Tapioka Indonesia (PPTTI) menggelar Business Matching Pati Ubi Kayu di Jakarta.
Langkah ini sejalan dengan Strategi Besar Industri Nasional (SBIN) yang berlandaskan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
SBIN menekankan penguatan backward-forward linkage untuk menciptakan rantai nilai industri yang terintegrasi dan efisien.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan, industri pati ubi kayu memiliki peluang besar untuk terus ditingkatkan kinerjanya.
“Saat ini terdapat 125 perusahaan pati ubi kayu dengan tingkat utilisasi 43 persen dan telah menguasai pasar dalam negeri mencapai 79 persen,” kata Agus.
Agus optimistis industri pati ubi kayu dapat ditingkatkan kembali dan mampu melakukan penetrasi pasar lebih luas lagi.
Meski memiliki potensi besar, industri ini masih menghadapi tantangan, terutama persaingan harga dan mutu dengan produk impor.
“Kemenperin mendorong penguatan sinergi antara produsen pati ubi kayu dan industri pengguna, salah satunya melalui penerapan mekanisme Neraca Komoditas (NK),” imbuhnya.
Pati ubi kayu merupakan komoditas strategis dengan nilai tambah tinggi.
Komoditas ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai produk pangan seperti pemanis, bumbu, makanan ringan, dan mie.
Untuk non-pangan, pati ubi kayu dapat dimanfaatkan untuk produk kertas, bahan kimia, dan ethanol.
Sektor ini mencatatkan peningkatan nilai ekspor pati ubi kayu hingga mencapai US$ 18,7 juta pada November 2025, naik 58,34 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Nusa Tenggara Barat – Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB, Eva Dewiyani, menyatakan pihaknya akan terus memperkuat optimalisasi lahan dan menjalankan program strategis daerah.
“NTB optimistis dapat terus menjaga tren peningkatan produksi sekaligus memperkuat ketahanan pangan,” ucap Eva.












