Jakarta – Kabar baik menghampiri proyeksi ekonomi Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan mencapai 5,07 persen pada tahun 2025.

Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 5,03 persen.

Department Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank, Faisal Rachman, mengungkapkan pendorong utama peningkatan ini adalah membaiknya permintaan domestik.

Menurut Faisal, konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) akan menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi. Hal ini sejalan dengan agenda pemerintah yang fokus pada pertumbuhan.

Faisal memprediksi pertumbuhan PDB Indonesia akan meningkat dari 5,04 persen (yoy) pada kuartal III 2025 menjadi 5,25 persen (yoy) pada kuartal IV 2025.

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal IV diperkirakan akan kembali ke kisaran 5 persen (yoy). Indikator seperti Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK), penjualan ritel, mobil, motor, dan impor barang konsumsi menunjukkan sinyal positif.

Stimulus fiskal, bantuan sosial, dan kebijakan untuk memperkuat pasar tenaga kerja menjadi langkah pemerintah yang mendukung pertumbuhan ekonomi.

Belanja pemerintah pada kuartal IV 2025 juga diprediksi meningkat, terutama pada belanja barang dan bantuan sosial. Konsumsi rumah tangga juga akan didorong oleh peningkatan permintaan musiman terkait libur akhir tahun.

Pertumbuhan PMTB juga diproyeksikan menguat pada kuartal IV, seiring dengan perbaikan PMI manufaktur serta pertumbuhan kredit modal kerja dan investasi. Investasi bangunan dan non-bangunan diperkirakan menjadi pendorong pemulihan ini.

Dari sisi eksternal, pertumbuhan ekspor diperkirakan melambat karena penerapan tarif resiprokal AS dan perlambatan ekonomi Tiongkok. Sementara itu, pertumbuhan impor diproyeksikan menguat, terutama didorong oleh impor barang modal.

Untuk tahun 2026, Faisal menilai risiko utama terhadap prospek ekonomi Indonesia masih serupa dengan tahun 2025. Ketidakpastian akibat perang dagang global, ketegangan geopolitik, dan pemulihan ekonomi Tiongkok yang lambat diperkirakan akan berlanjut.

Namun, kondisi pertumbuhan global yang cenderung melemah menunjukkan bahwa tekanan inflasi akan tetap terkendali.

Hal ini dinilai dapat membuka ruang bagi penurunan suku bunga kebijakan lebih lanjut, meskipun lebih terbatas dibandingkan 2025. Kondisi ini berpotensi mendukung sentimen risk-on terhadap aset pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *