Jakarta – Air jernih belum tentu aman! Masyarakat sering terkecoh dengan tampilan fisik air. Padahal, air yang terlihat bersih bisa saja mengandung bahaya tersembunyi.
Ahli kesehatan mengingatkan, kejernihan air bukanlah jaminan bebas dari kontaminasi biologis maupun kimiawi.
Air yang tampak bening berisiko mengandung mikroorganisme patogen dan zat kimia berbahaya yang tak kasat mata.
Bakteri seperti Salmonella dan E. coli kerap ditemukan pada sumber air yang tidak terlindungi. Bakteri ini dapat menyebabkan diare akut hingga infeksi pencernaan serius.
Selain itu, pestisida dari pertanian dan logam berat dari limbah industri dapat mencemari air tanah. Paparan jangka panjang zat-zat ini berisiko merusak organ vital seperti ginjal dan hati.
Lalu, bagaimana solusinya?
Untuk meminimalisir risiko, masyarakat disarankan menggunakan sistem filtrasi air yang mumpuni, selain hanya mengandalkan perebusan.
Teknologi Reverse Osmosis (RO) atau osmosis terbalik semakin populer. Sistem penyaringan ini menggunakan membran semi-permeabel yang mampu menyaring partikel hingga ukuran terkecil.
Teknologi RO diklaim efektif menghilangkan kontaminan berbahaya dalam air dengan tingkat akurasi mencapai 99%.
Masyarakat diimbau lebih selektif dalam memilih sumber air konsumsi dan rutin melakukan pengecekan atau perawatan pada sistem penyaringan air di rumah.
Memastikan keamanan sumber air adalah langkah preventif terbaik untuk kesehatan jangka panjang.












